Carl Rogers merupakan tokoh yang mengembangkan
terapi client centered. Menurut Rogers kesulitan penyesuaian diri
(maladjustment) terjadi bila terdapat kesenjangan yang jauh antara ideal selves
dgn real selves sehingga menyakitkan
Tujuan
dari terapi client centered adalah : mengurangi kesenjangan & rasa sakit yg
disebabkan dqan menciptakan iklim kondusif bagi usaha klien
untuk menjadi pribadi yang berfungsi penuh
Terapi Client Centered mencoba membantu
klien dg memfasilitasi kesadaran klien dengan cara memelihara hubungan klien-terapis. Setiap orang mempunyai sumber-sumber dan kekuatan untuk...
Monday, March 25, 2013
Terapi Humanistik Eksistensial
Terapi humanistik eksistensial lebih memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar dan juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien pada masa sekarang bukan pada masa lampau.
Pada dasarnya terapi eksistensial memiliki tujuan untuk meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
Dalam buku Teori dan Praktek Konseling Psikoterapi oleh Gerald Corey pada tahun 1999, terapi eksistensial juga bertujuan membantu klien menghadapi kecemasan sehubungan dengan pemilihan nilai dan kesadaran bahwa dirinya bukan hanya sekedar...
Terapi Psikoanalisa
Definisi
Terapi psikoanalitik terdiri dari dua kata, yaitu “terapi”
dan “psikoanalitik”. Secara eksplisit, “terapi” dalam psikologi berarti
perawatan masalah-masalah tingkah laku. Sedangkan “psikoanalitik” merujuk pada
metode psikoterapi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud.
Dengan demikian, terapi psikoanalitik dapat dipahami sebagai
perawatan yang dikembangkan oleh Freud, dengan memusatkan perhatian pada
pengidentifikasian penyebab-penyebab tak sadar dari tingkah laku abnormal
dengan menggunakan metode hipnotis, asosiasi bebas, analisis mimpi,
transferensi, dan penafsiran.
Metode
Dalam psikoanalsis Freud, metode...
Subscribe to:
Posts (Atom)
Monday, March 25, 2013
Terapi Client Centered
Carl Rogers merupakan tokoh yang mengembangkan
terapi client centered. Menurut Rogers kesulitan penyesuaian diri
(maladjustment) terjadi bila terdapat kesenjangan yang jauh antara ideal selves
dgn real selves sehingga menyakitkan
Tujuan
dari terapi client centered adalah : mengurangi kesenjangan & rasa sakit yg
disebabkan dqan menciptakan iklim kondusif bagi usaha klien
untuk menjadi pribadi yang berfungsi penuh
Terapi Client Centered mencoba membantu
klien dg memfasilitasi kesadaran klien dengan cara memelihara hubungan klien-terapis. Setiap orang mempunyai sumber-sumber dan kekuatan untuk mengatasi masalahnya
sendiri. Secara alamiah setiap orang termotivasi
untuk mengembangkan potensi-potensinya dan mencapai aktualisasi diri.
Tonggak terapi client centered adalah
beranggapan bahwa klien dalam hubungannya dengan terapis yg menunjang, memiliki
kesanggupan untuk menentukan & menjernihkan tujuan-tujuannya sendiri.
Klien dengan segera belajar bahwa dia bertanggung
jawab atas dirinya sendiri & bahwa dia bisa belajar lebih bebas untuk
memperoleh pemahaman diri yg lebih besar.
3 ciri pribadi terapis
Keselarasan atau kesejatian
terapis
tampil nyata, terintegrasi, bersikap spontan, sanggup menyatakan kemarahan,
kekecewaan, kesukaan, ketertarikan dll
Perhatian positif tak bersyarat
perhatian
yg mendalam & tulus, tidak dicampuri oleh evaluasi atau penilaian perasaan,
pemikiran & tingkahlaku klien sbg baik atau buruk
Pengertian empatik yang akurat
mengerti
secara peka perasaan & pengalaman klien.
Kelemahan terapi client centered
terletak pada cara sejumlah pemraktek menyalahtafsirkan atau menyederhanakan
sikap2 sentral dari posisi client centered
Sumber
Findryawati.staff.gunadarma.ac.id
Terapi Humanistik Eksistensial
Terapi humanistik eksistensial lebih memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar dan juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien pada masa sekarang bukan pada masa lampau.
Pada dasarnya terapi eksistensial memiliki tujuan untuk meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
Dalam buku Teori dan Praktek Konseling Psikoterapi oleh Gerald Corey pada tahun 1999, terapi eksistensial juga bertujuan membantu klien menghadapi kecemasan sehubungan dengan pemilihan nilai dan kesadaran bahwa dirinya bukan hanya sekedar korban kekuatan-kekuatan determinisik dari luar dirinya. Terapi eksistensial memiliki cirinya sendiri oleh karena pemahamannya bahwa tugas manusia adalah menciptakan eksistensinya yang bercirikan integritas dan makna.
Fungsi dan Peran Terapis
Tugas utama dari seorang terapis adalah berusaha memahami keberadaan klien dalam dunia yang dimilikinya. Tugas terapis diantaranya adalah membantu klien agar menyadari keberadaanya dalam dunia: “Ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai orang yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subyek yang memiliki dunia”. Peran terapis sebagai ”spesialis mata ketimbang pelukis”, yang bertugas memperluas dan memperlebar lapangan visual pasien.
Penerapan Teknik dan Prosedur Terapeutik
Pendekatan eksistensial pada dasarnya tidak memiliki perangkat teknis yang siap pakai seperti kebanyakan pendekatan lainya. Pendekatan ini bisa menggunakan beberapa teknik dan konsep psikoanalitik, juga bisa menggunakan teknik kognitif-behavioral. Metode yang berasal dari Gestalt dan analis Transaksional pun sering digunakan. Akan tetapi pada intinya, teknik dari pendekatan ini adalah penggunaan kemampuan dari pribadi terapis itu sendiri.
Pada saat terapis menemukan keseluruhan dari diri klien, maka saat itulah proses terapeutik berada pada saat yang terbaik. Penemuan kreatifitas diri terapis muncul dari ikatan saling percaya dan kerjasama yang bermakna dari klien dan terapis.
Proses konseling oleh para eksistensial meliputi tiga tahap. Dalam tahap pendahuluan, konselor membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercermin pada eksistensi mereka dan meneliti peran mereka dalam hal pencitpaan masalah dalam kehidupan mereka.
Pada tahap pertengahan, klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dari system mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
Tahap Terakhir berfokus pada untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupanya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaaan kebebasan pribadinya.
Bentuk Terapi Berdasarkan Jumlah Klien
• Client centered therapy (Rogers)
– Fokus pada klien dg asumsi bhw klien merupakan pakar yang terbaik
bagi dirinya sendiri untuk menyelesaikan masalahnya
– Terapis sebagai fasilitator dalam proses pemecahan masalah.
Terapi ini disebut juga client centered therapy atau terapi nondirektif. Teknik ini awalnya dipakai Carl Rogers pada tahun 1942. Teknik ini dipakai secara lebih terbatas pada terapi mahasiwa dan orang-orang dewasa muda lain yang mengalami masalah-masalah penyesuaian diri yang sederhana.
Pendekatan humanistik Rogers terhadap terapi person centered therapy membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik.Rogers berpendapat bahw terapis tidak boleh memaksakan tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang dimilikinya kepada pasien.
• Group therapy
– Memberi kesempatan bagi klien untuk memecahkan masalahnya
dengan kehadiran orang lain untuk mengamati bagaimana reaksi
orang atas perilaku mereka
• Encounter group (kelompok pertemuan)
– Pemecahan masalah untuk mengkaji pengalaman antara para anggota
• Family therapy
– Mengatasi masalah2 keluarga
Kelebihan
- Efisien
- Efektif
- Didukung oleh teknis2 yang telah diuji secara empiris
- empiris
- Dapat digunakan secara luas
Sumber:
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius
http://www.psikologizone.com/konseling-terapi-pendekatan-eksistensial/06511676
Terapi Psikoanalisa
Definisi
Terapi psikoanalitik terdiri dari dua kata, yaitu “terapi”
dan “psikoanalitik”. Secara eksplisit, “terapi” dalam psikologi berarti
perawatan masalah-masalah tingkah laku. Sedangkan “psikoanalitik” merujuk pada
metode psikoterapi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud.
Dengan demikian, terapi psikoanalitik dapat dipahami sebagai
perawatan yang dikembangkan oleh Freud, dengan memusatkan perhatian pada
pengidentifikasian penyebab-penyebab tak sadar dari tingkah laku abnormal
dengan menggunakan metode hipnotis, asosiasi bebas, analisis mimpi,
transferensi, dan penafsiran.
Metode
Dalam psikoanalsis Freud, metode diterjemahkan sebagai cara
yang digunakan untuk membantu pasien dalam memperoleh pemahaman mengenai
konflik-konflik tak sadar yang dia alami sekaligus memecahkannya.
Secara umum, ada sekitar lima metode yang digunakan Freud,
yaitu hipnotis (pada masa awal), asosiasi bebas, analisis mimpi, transferensi,
dan penafsiran.
a. Hipnotis
Awal kemunculan hipnotis diperkirakan sekitar tahun 1700-an,
ketika itu, seorang dokter Wina bernama Franz Anton Mesmer memperlihatkan suatu
teknik animal magnetism, tapi kemudian berubah menjadi hipnotisme karena
penekanan dari teknik tersebut dialihkan untuk menimbulkan suatu keadaan
kesadaran yang berubah melalui sugesti verbal.
Freud berpikir dan menyimpulkan bahwa apapun faktor
psikologis yang menyebabkan histeria, faktor-faktor itu pasti terletak di luar
area kesadaran. Dan pada saat itulah, Freud belajar dan menggunakan hipnotis
untuk melihat alam tak sadar manusia.
Hipnotis adalah suatu
prosedur yang menyebabkan sensasi, persepsi, pikiran, perasaan, atau tingkah
laku berubah karena disugesti. Huffman, dkk. (1997) seperti ditulis Semiun (h.
555) mengidentifikasi individu yang dihipnotis, bahwa dia yang dihipnotis itu:
- perhatiannya dipersempit dan terfokus,
- menjadikannya sangat mudah menggunakan imajinasi dan pelbagai halusinasi,
- sikap individu itu menjadi pasif dan reseptif,
- tanggapan terhadap rasa sakit berkurang,
- sangat mudah sekali disugesti, dengan kata lain, kesediannya untuk mengadakan respon terhadap perubahan-perubahan persepsi meningkat.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia (2008), kita akan temukan bahwa
hipnotis itu suatu perbuatan yang membuat atau menyebabkan seseorang berada
dalam keadaan hipnosis, yaitu keadaan seperti tidur karena sugesti, yang dalam
taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan
sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali. Dalam
terapi psikoanalitik, hipnotis digunakan oleh Freud pada tahap awal
kepraktikannya bersama seorang neurolog Prancis kenamaan Jean Charcot dan
dokter asal Wina Josef Breuer saat menangani pasien yang mengidap histeria.
b. Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas secara sederhana didefinisikan sebagai bicara
bebas, yaitu sesuatu yang tidak lebih dari berbicara tentang apa yang terlintas
dalam pikiran, beralih dari satu topik menuju topik lain dalam suatu urutan
yang bergerak bebas serta tidak mengikuti agenda tertentu.
Dijelaskan kemudian, bahwa asosiasi bebas merupakan proses
mengatakan apapun yang terlintas dalam pikiran secara bebas, berkaitan dengan
mimpi, fantasi, atau konflik tanpa memberikan komentar apapun. Sedangkan Goble
(1991: 137), menjelaskan asosiasi bebas sebagai suatu teknik di mana pasien,
dalam keadaan rileks, biasanya berbaring di atas dipan, berbicara tentang apa
saja yang melintas dalam pikirannya, tanpa terlalu banyak dipotong.
c. Analisis Mimpi
Mimpi, dipercaya Freud sebagai “jalan yang sangat baik
menuju ketaksadaran”. Hal tersebut didasari kepercayaan Freud bahwa mimpi itu
perwujudan dari materi atau isi yang tidak disadari, yang memasuki kesadaran
lewat yang tersamar. Dalam hal ini, mimpi mengandung muatan manifes atau
manifest content dan content latent atau muatan laten. Yang disebut pertama
merupakan materi mimpi yang dialami dan dilaporkan. Sedangkan yang disebut
kemudian, ialah materi bawah sadar yang disimbolisasikan atau diwakili oleh
mimpi.
Sebagai contoh, Tedi bermimpi terbang menaiki Garuda
Indonesia. “Terbang” adalah muatan yang tampak atau muatan manifes dari mimpi.
Freud percaya bahwa “terbang” merupakan simbol dari ereksi, jadi mungkin muatan
laten dari mimpi merefleksikan isi bawah sadar yang berkaitan dengan ketakutan
akan impotensi.
Analisis mimpi, sebenarnya lebih dapat dipahami sebagai
suatu bentuk asosiasi bebas, tapi dalam konsep Freud, mimpi merupakan suatu
bentuk kegiatan mental yang sangat terorganisasi sehingga patut diperhatikan
secara khusus.
d. Transferensi
Dalam psikoanalitik Freud, transferensi berarti proses
pemindahan emosi-emosi yang terpendam atau ditekan sejak awal masa kanak-kanak
oleh pasien kepada terapis. Transferensi dinilai sebagai alat yang sangat
berharga bagi terapis untuk menyelidiki ketaksadaran pasien karena alat ini
mendorong pasien untuk menghidupkan kembali pelbagai pengalaman emosional dari
tahun-tahun awal kehidupannya.
Transferensi pada tahap yang paling kritis berefek abreaksi
(pelepasan tegangan emosional) pada pasien. Efek lain yang mungkin, ada dua,
yaitu positif dan negatif. Positif: saat pasien secara terbuka mentransferkan
perasaan-perasaannya sehingga menyebabkan kelekatan, ketergantungan, bahkan
cinta kepada terapis. Negatif: tatkala kebencian, ketidaksabaran, dan kadang-kadang
perlawanan yang keras terhadap terapis. Dan ini dapat berefek fatal terhadap
proses terapi.
e. Penafsiran
Penafsiran itu sendiri adalah penjelasan dari psikoanalis
tentang makna dari asosiasi-asosiasi, pelbagai mimpi, dan transferensi dari
pasien. Sederhananya, yaitu setiap pernyataan dari terapis yang menafsirkan
masalah pasien dalam suatu cara yang baru. Penafsiran oleh analis harus
memperhatikan waktu. Dia harus dapat memilah atau memprediksi kapan waktu yang
baik dan tepat untuk membicarakan penafsirannya kepada pasien.
Karena penafsiran merupakan masalah yang begitu kritis,
analis harus benar-benar menyadari mekanisme-mekanisme dan pelbagai dorongan
untuk mempertahankan dirinya sebab kalau tidak dia akan jatuh ke dalam
perangkap penafsiran terhadap pelbagai perasaan dan pikiran dinamik pasien
menurut sederet pengalaman dan masalah hidup analis sendiri. Inilah alasannya
mengapa psikoanalis harus menjalani analisis diri pribadi.
Kelebihan Dan Kekurangan Terapi Psikoanalisis
Kelebihan
· Terapi ini memiliki dasar teori yang kuat. · Dengan terapi
ini terapis bisa lebih mengetahui masalah pada diri klien, karena prosesnya
dimulai dari mencari tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien.
· Terapi ini bisa membuat klien mengetahui masalah apa yang
selama ini tidak disadarinya.
Kekurangan
· Waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang
· Memakan banyak biaya bagi klien
· Karena waktunya lama, bisa membuat klien menjadi jenuh
· Diperlukan terapis yang benar-benar terlatih untuk
melakukan terapi
Sumber:
Naisaban, L. (2004). Para Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat
Hidup, Pokok Pikiran, Dan Karya. Jakarta: PT.Gramedia Widiasarana Indonesia.
Aminulah, Aabf Arwani. Terapi Psikoanalitik. http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2010/12/27/terapi-psikoanalitik-328149.html.
diubduh pada 25 Maret 2013.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Popular Posts
-
Ende adalah kota yang terletak di kabupaten Ende Propinsi Nusa Tenggara Timur. Penduduk asli orang Ende biasa disebut orangLio- Ende. Ma...
-
Behavior Therapy (Terapi Tngkah Laku) Terapi tingkah laku adalah pendekatan penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berlandask...
-
Johnson dalam Syafaruddin & Anzizhan(2004) berpendapat bahwa sistem adalah suatu keterpaduan atau kebulatan yang kompleks atau kombina...
-
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI Teknologi informasi juga diaplikasikan dalam bidang Sistem Informasi, yaitu Sistem Informasi Akuntasi (SIA), S...
-
A. Apa itu Analisis Transaksional? Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubung...
-
Setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Akan tetapi banyak orang tua tidak menyadari bahwa cara mereka mengasuh ...
-
Seorang wanita yang baru saja menikah datang pada ibunya dan mengeluh soal tingkah laku suaminya. Setelah pesta pernikahan, baru ia tahu ...
-
Definisi Multikulturalisme berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan nilai atau memiliki kepen...
-
Kekhwatiran merupakan hal yang sering muncul dalam pribadi seseorang. Dan hal ini merupakan hal yang manusiawi. Namun jangan sampai kita me...
-
Carl Rogers merupakan tokoh yang mengembangkan terapi client centered . Menurut Rogers kesulitan penyesuaian diri (maladjustment) terjad...
Search This Blog
Powered by Blogger.